Pages

Thursday, December 9, 2010

Who Can Tell? *part 1

Hari Senin, tepatnya di SMP 167. Seperti biasa, Divo dan Diva sudah berkumpul di bawah pohon dimana mereka sering bertemu. Divo Diva adalah nama grup. Walaupun ada yang datangnya sedikit telat, mereka tetap menunggu. Seperti saat ini, Cakka dan Oik datang telat 15 sebelum bell berbunyi.

“eh, maaf, gue telat...” kata Oik.
“iya, gapapa.. si Cakka mana?” tanya Ray.
“tau dah... diakan gak bareng gue..” jawab Oik sambil ngosngosan.
“eh, itu dia..” jawab Shilla dan Ify berbarengan sambil nunjuk Cakka.
“CAKKA!!!” teriak Iel dari bawah pohon sambil melambaikan tangannya.

Cakka pun lari menuju dimana mereka selalu menunggu. Sesampainya disama, dia duduk di sebelah Oik yang masih ngosngosan.

“lo berdua tuh udah kayak jodoh tau gak, kalo telat pasti barengan...” kata Sivia tiba-tiba.
“heh... gue? Jodoh sama Cakka? Ogah banget dah~” kata Oik soksokan.
“ye.. Gue juga ogah kali deh sama lu...” kata Cakka ke Oik.
“tuhkan.. baru digituin udah mau ribut.. eh, 10 menit lagi masuk kan?” kata Debo nyelak pertengkaran antara Oik dan Cakka, diiring tanyanya. Kiki hanya diam saja melihat temannya yang (selalu) ribut.

Cakka melihat ke jam tangannya, lalu ia mengangguk. Mereka hanya terdiam satu sama lain. 10 menit berlalu, bell sekolahpun berbunyi. Cakka, Oik dan Sivia yang berada di kelas yang sama pun langsung berjalan menuju kelas 8-3. Ify, Gabriel dan Ray satu kelas, mereka juga menuju kelasnya di kelas 8-1. Shilla, Kiki, Debo dan Angel berada di kelas yang sama juga, mereka pun kearah kelasnya di kelas 8-4.

Anak-anak kelas 8-3 sudah memasuki kelas, termaksud Sivia, Cakka dan Oik. Sivia dan Oik yang duduknya bersama segera menduduki kursi mereka, Cakka yang tempat duduknya dibelakang tempat duduknya Oik pun segera duduk. Tak lama gurupun datang.

“selamat pagi anak-anak” kata bu Ira, guru bahasa Indonesia mereka.
“selamat pagi Bu” jawab anak-anak kelas 8-3 serentak.
“hari ini tugas kalian adalah menceritakan kegiatan kalian disaat hari Minggu yang lalu...” jelas bu Ira. Anak-anak kelas 8-3 Cuma ngangguk.

Oik dan Sivia berdiskusi tentang hal tersebut. Cakka yang dibelakang merekapun mendengarkan dan ikut bergabung bediskusi dengan Sivia dan Oik.

“eh, lo hari minggu ngapain?” tanya Sivia.
“hmm.. gue Cuma dirumah aja, palingan main sama si Cakka, main Bola...” jelas Oik, memang rumah dia dan Cakka gak jauh.
“iya, tapi kan tim punya lo kalah...” tiba-tiba Cakka nyamber.
“ye, diem lo!” kata Oik pelan, takut kedengeran sama bu Ira.
“sabodo! Eh, kalo lo kemana Via?” alih Cakka.
“hmm.. kalo gue Cuma jalan-jalan sama Ibu gue, ya itu juga nemenin doang, lo taukan, kerjaannya belanja...” jelas Sivia menampakkan wajah malas.
“ohh...” Cakka dan Oik mebulat.

Setelah itu mereka segera menulis cerita tentang kegiatan mereka selama hari minggu itu. Setelah selesai, Bu Ira menyuruh anak-anak kelas 8-3 untuk menceritakan kegiatan mereka.

“hmm... apakah ada yang mau maju pertama kali?” tanya Bu Ira. Anak-anak Cuma diam.
“oke, sekarang ibu akan memilih siapa yang akan maju kedepan..” lanjut Bu Ira.
“hmm... Cakka” kata Bu Ira.
Cakka langsung maju kedepan dan menceritakan kegiatannya. Stelah ia selesai, Bu Ira menyuruh Cakka untuk memilih siapa selanjutnya. Cakka memilih Oik, Oik memilih Sivia dan seterusnya.

Setelah semua murid menceritakankegiatan mereka, mereka mengumpulkan bukunya kepada Bu Ira. Bu Ira mengoreksi buku mereka. Tak lama bell pun berbunyi, tanda pelajaran telah terganti. Bu Ira segera keluar dari kelas itu.

Matematika adalah pelajaran selanjutnya, dan Pak Dave adalah guru Matematika mereka. Sebelum Pak Dave masuk, anak-anak pada jalan-jalan. Tak lama Pak Dave pun masuk, anak-anak pun langsung duduk

“selamat siang anak-anak..” kata Pak Dave.
“selamat siang Pak...” jawab anak-anak 8-3
“kali ini kita belajar tentang Aljabar” kata Pak Dave.

Ditempat lain, tepatnya dimeja Oik dan Sivia.

“yes, aljabar” kata Oik.
“jah... yang pinter aljabar” kata Sivia “ah, sok banget deh lu, Ik..” kata Cakka yang ikut nimbrung.
“gue gak sok, Kka. Gue Cuma suka sama pelajaran ini...” kata Oik nahan Emosi, karena, setiap Cakka komentar, dia bisa kebawa emosi sendiri.
“heh, inget! Dikelas nih.. jangan ribut!” kata Sivia kepada Cakka dan Oik.

Oik menatap Cakka sinis, Cakka hanya menatap Oik dengan tatapan tak bersalah. Oik kesal, lalu melihat ke depan. Dilihatnya Pak Dave sedang menulis penjelasan aljabar Setelah itu, Pak dave menyuruh murid-muridnya untuk menulis penjelasan Aljabar tersebut. Anak-anak kelas 8-3 pun menulisnya. Apalagi Oik, dia sangat semangat. Setelah semua murid selesai mengulis penjelasan tentang Aljabar, Pak Dave menyuruh muridnya mengerjakan apa yang dia tengah tulis di papan tulis.

Kerjakan:
Hal. 375
No. 1-3 (a-j)


Oik yang mengetahui Pak Dave sedang menulis apa yang harus mereka kerjakan pun segera mengerjakannya di buku tulisnya, begitu juga dengan temannya yang lain.

“eh, Ik! Gimana caranya yang ini?” tanya Sivia.
“kalo yang ini, gini..” jelas Oik kepada Sivia.
“oh, gini... makasih ya..” kata Sivia ke Oik.

Tak lama, pelajaran Pak Dave pun selesai. Bell sekolahan pun sudah berbunyi, tanda Istirahat dimulai. Oik yang sudah menyelesaika pekerjaannya pun segera memberikan bukunya ke Pak Dave, begitu pula dengan anak-anak yang lain.

“Oik, ayo..” Ajak Sivia. “Ayo lah...” balas Oik.
“eh, tunggu! Si Cakka.” Kata Sivia.

Oik hanya mengangguk dengan tampang malas, dan mereka menunggu Cakka didepan pintu kelasnya. Tak lama, Cakka datang.

“eh... ada fans yang nungguin!” kata Cakka PeDe.
“ih, udah di tungguin, bukanya terima kasih!” kata oik sedikit kesal.
“jah, Ik. Biasa aja kali, lagian pake ditungguin! Gue kan bisa kesana sendiri!”
“lo tuh gak tau terima kasih banget ya! Sabodo ah! Terserah lu! Syukur udah di tungguin, malah nyalahin orang gara-gara nungguin elu lagi!” kata Oik kesal.
“sante aja Ik. Dia kan emang gitu, udahlah, ayo.. pasti yang lain udah pada nungguin!” Kata Sivia.
“Woo sewot.. ngapa deh lo Ik..” kata Cakka.
“Bodo ah..” jawab Oik males.

Sivia segera menarik tangan mereka sebalum tambah panjang debatnya. Mereka bertiga pun segera berjalan kearah pohon dimana biasanya mereka bertemu.


apa yang terjadi selanjutnya dengan Oik dan Cakka? Mohon Komennya ya..
maaf pemerannya gak sesuai, soalnya biar matching sama endingnya..

No comments:

Post a Comment